Aku dan nasi bungkus pakai sambal terasi ^^


Untukku sebagai orang Indonesia tulen, nasi adalah senjata ampuh dan paling pokok dalam kebutuhan pengisian energiku lagi, apalagi nasi bungkus 😀

    Hari ini spesial sekali karena baru pertama kalinya aku membawa bekal nasi bungkus dari rumah di bulan Agustus ini. Setelah melewati ibadah puasa selama sebulan (awal Juli sampai awal Agustus), aku memang tidak terbiasa lagi membawa bekal dari rumah. Ya kebanyakan setelah puasa aku makan di warung Pak Jenggot sebelah kantorku, atau makan gorengan di kantor (kemarin, tanggal 21 Agustus). Aku jarang sekali membawa uang lebih banyak untuk pengisi dompetku. Ya paling, sepuluh atau dua puluh ribu saja yang berjejer rapi. Setiap mendapat gaji, aku selalu memberikannya sebagian untuk mamaku agar dibelikan kebutuhan rumah tangga, dan sisanya aku tabung entah di bank atau di rumah.

    Sekian lama tak pernah beli nasi bungkus di warung pak jenggot, dan kalaupun makan siang kadang-kadang ditraktir bosku, aku jadi tak update lagi tentang harga per nasi bungkusan. Terakhir aku beli nasi bungkus seharga enam ribu rupiah, dan kemarin selasa aku beli sudah delapan ribu rupiah. Waw ! Aku tak pernah seberat hati ini membeli seporsi nasi bungkus berisi nasi, sambal, kuah santan pedas, bandeng goreng dan telor dadar, tapi kali ini sangat berbeda, entah mengapa ada sedikit penyesalan dalam diriku karena tak membawa bekal dari rumah–sedikit berlebihan, maaf.

    2 hari setelah kejadian itu aku bertekad untuk membawa bekal dari rumah sendiri agar tidak dikecewakan dengan harga nasi bungkus pak jenggot, walaupun memang kenaikan harga nasi bungkus disebabkan oleh kenaikan harga sembako dan bbm dipasaran bukan karena pak jenggot yang salah, tapi tetap saja aku ingin menyembuhkan kekecewaanku itu dengan membawa bekal sendiri. Tanpa diduga mamaku pagi ini pergi untuk membeli nasi bungkus Bu Rohmah, bukan Rahma, untukku dan kakakku. Aku berteriak dalam hati, yey! aku membawa bekal nasi bungkus sendiri ke kantor, aku bahagia sekali walau tak aku ekspresikan dengan loncat-loncat kegirangan.

    Saat makan siang sendirian di kantor, aku dengan semangat membuka nasi bungkus yang dibawakan oleh mamaku, dan hadirlah nasi, sambal terasi, lapis daging, bali tahu dan tumis tahu tempe, sungguh membuatku berselera makan sekali. Langsung saja aku lahap dengan semangat ’45 semuanya sampai habis. Sungguh aku senang sekali…

     Beberapa menit setelah makan nasi bungkus aku jadi terngiang dengan kesederhanaannya tapi mampu memberikan semangat baru dan mungkin beberapa sel hormon endorphin untuk penikmatnya. Andai para pecandu narkoba dan penikmat hal-hal negatif lainnya mampu mengendalikan pikiran dan asumsinya bahwa tak perlu hal mahal dan negatif untuk memperbaiki harinya yang berantakan atau harinya yang kacau, hanya dengan sebungkus nasi dan lauk-pauk plus sambal–untuk yang suka pedas sepertiku. Iya, hanya nasi bungkus yang sekarang harganya kurang dari sepuluh ribu, mungkin di tempat lain harganya berbeda, kita bisa senang dan bersemangat lagi melewati hari dengan perut kenyang dan pikiran tenang. Semoga dengan tulisan ini banyak orang yang mengerti artinya kesederhanaan dan mampu mencari hal-hal kecil namun bisa memberi kesan yang besar pada hidup, amin… 🙂Gambar

Iklan